February 04, 2014

Istimewanya Jogjakarta










     Jogjakarta dab ! Siapa yang ngga tau kota pelajar ini ? Semua orang pasti kenal dengan kota ini, ya , Daerah Istimewa Jogjakarta ini dikenal dengan nama kota Pelajar. Seringkali aku menghabiskan liburan di Jogja bersama sahabat - sahabatku. Meskipun sudah seringkali ke Jogja , tapi tak pernah aku merasa bosan. Atmosfir di kota Jogja memang istimewa , berbeda dengan kota lainnya. Di mulai dari budayanya yang masih melekat di masyarakat hingga sampai banyaknya tempat wisata yang perlu dikunjungi. Tugu Jogjakarta , yang berada di tengah perempatan menjadi ikon kota Jogja itu sendiri. Seringkali orang berfoto disana, dan aku pun juga tak ingin kalah berfoto disana. Malioboro , semua yang pergi ke Jogja wajib mengunjungi Malioboro. Malioboro Simbol Destruksi Budaya Kebijaksanaan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, menjual berbagai kerajinan, dimulai dari pakaian , handicraft,dan lain - lainyang bisa dijadikan oleh oleh khas Jogjakarta. Saat di Jogja aku juga pergi menungunjungi Taman Sari yang dikenal sebagai “Master-piece”  Yogyakarta. Aku juga pergi ke daerah Gunungkidul. Aku mendengar cerita dari orang - orang yang katanya di daerah Gunungkidul tersebut memiliki 47 pantai yang berpasir putih. Tanpa berpikir panjang, aku langsung tancap gas pergi kesana. Dan setelah sampai disana, ternyata benar. Mulai kumasuki pantai Kukup , pantai Sundak , Indrayanti , dan Pok Tunggal . Pasirnya yang putih dihiasi dengan tebing, ombaknya yang dahsyat, bak seperti saya sedang berada di dreamlandnya Jogja. Selain itu saat sedang di Jogja, aku juga pergi ke Goa Pindul. Gua Pindul adalah salah satu gua yang merupakan rangkaian dari 7 gua dengan aliran sungai bawah tanah yang ada di Desa Bejiharjo, Karangmojo, menawarkan sensasi petualangan. Disana aku dan teman - temanku menyusuri goa Pindul dan rafting di sungai Oyo hanya dengan membayar Rp.55.000 saja. Airnya yang cukup dingin dan di tengah alam, sensasi petulangannya dapat dirasakan. Saat di Jogja juga aku pergi ke desa Kinahrejo yang merupakan desa tempat tinggal Almarhum Mbah Maridjan. Beliau adalah juru kunci merapi sampai beliau wafat pada tahun 2010 karena terkena awan panas atau sering disebut wedhus gembel pada erupsi terkahir Gunung Merapi pada akhir tahun 2010. Disana aku melihat bekas mobil yang terkena awan panas gunung Merapi tersebut. Banyak sekali wisata di Jogja yang belum aku kunjungi, dan aku akan pergi ke Jogja lagi untuk menikmati keistimewaan Jogja yang lainnya.

February 03, 2014

Golden Sunrise




     13 Oktober 2013 , it's an unforgettable day , why ? Karena pada hari itu aku dan 3 sahabatku berada di desa tertinggi di pulau Jawa ! Pada hari Sabtu, 12 Oktober 2013 , kami tanpa ada persiapan apapun sebelumnya , iseng untuk pergi ke bukit Sikunir yang terletak di Desa Sembungan yang merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa (2.350 m dpl), Bukit Sikunir merupakan salah satu spot terbaik untuk menyaksikan terbitnya mentari di ufuk timur. Oleh karena itu, sekitar pukul 15.00 kami berangkat dari rumah. Sekitar pukul 18.00 sampai Dieng, ban motor yang saya tumpangi bocor , dan beruntung sekali, kami bertemu dengan seorang penduduk desa yang kebetulan masih sebaya dengan kami. Dia menolong kami, menyuruh kami untuk ikut ke rumahnya , dan ban motor yang bocor tadi ditambal oleh teman orang yang menolong kami tersebut. Sambil menunggu ban motor ditambal, kami dijamu oleh orang yang menolong kami. Setelah selesai ditambal, kami berterima kasih dan mengajak orang tersebut untuk ikut dengan kami ke bukit Sikunir, ditambah lagi kami tidak tau jalan menuju Sikunir, sehingga orang itu benar - benar sangat membantu kami.
     Sesampai di parkiran, kami melanjutkan ke puncak bukit dengan berjalan kaki. Kami berjalan santai dengan menikmati alam sekitar. Kurang lebih 45 menit, kami sampai di tanah landai yang dekat dengan puncak. Kami segera mendirikan tenda dan membuat mie goreng dan minuman hangat untuk menghangatkan badan. Udara malam itu sangat dingin, setelah kami makan , aku iseng berjalan - jalan di sekitar untuk menikmati suasana bukit. Saat aku sedang duduk dengan sahabatku, ada 4 anak kecil mendirikan tenda di depan kami. Kutanyai mereka dan ternyata anak - anak kecil itu suka menghabiskan liburan di bukit Sikunir. Anak itu adalah penduduk daerah situ sendiri. Ya karena anak - anak itu supel dengan kami, jadi kami bergurau bersama. Anak yang baik yang mau bersahabat dengan alam di umur mereka yang kurang lebih sekitar 12 tahun.
     Pada malam itu di bukit Sikunir sangat ramai sekali, sekitar 500 orang ada di puncak bukit Sikunir tersebut untuk menikmati Golden Sunrise esok hari. Karena aku merasa lelah, aku memutuskan untuk mengakhiri malam yang indah tersebut. Esoknya sekitar pukul 4.30 , aku bangun dan segera berbenah. Sekitar pukul 5.00 , aku dan yang lainnya segera menuju ke puncak untuk menyambut kedatangan sang surya pagi itu. Cuaca pagi yang dingin menemani kami, orang - orang sudah siap dengan kamera di tangan untuk mengabadikan momen yang indah itu. Sekitar pukul 5.45 , muncullah sang surya dengan bundaran yang sempurna. Subhanallah , indah sekali surya itu menampakkan dirinya dengan warna jingga pekat bundar dan dengan background gunung prau dan Sindoro yang berdiri gagah di belakangnya. Pantas saja dinamakan Golden sunrise , memang benar benar sunrise bak golden yang berpijar. Aku segera mengabadikan momen - momen saat itu. Lelah dari rumah yang ku tempuh hingga sampai di puncak Sikunir, terbayar sudah dengan menakjubkannya Golden sunrise. Terima kasih Tuhan Engkau telah memberikan alam yang indah kepada kami para manusia yang hanya bisa mengagumi dan merawatnya..

Ekspedisi pertamaku 3145 mdpl




     Tanggal 18 dan 19 Mei 2013 dimana itu adalah hari pertama ekspedisiku mendaki gunung , yakni gunung Merbabu yang terletak di berada di wilayah Kabupaten Magelang di lereng sebelah barat dan Kabupaten Boyolali di lereng sebelah timur dan selatan,Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang di lereng sebelah utara, Provinsi Jawa Tengah. Aku dan para sahabatku mengikuti pendakian massal yang dilaksanak oleh para mahapala UNNES. Awalnya kita hanya berencana mendaki gunung Ungaran, tapi salah satu dari sahabatku menyuruh kami untuk ikut acara pendakian masal tersebut.
     Sabtu Pagi 18 Mei 2013 , kami berangkat menuju basecamp gunung Merbabu dengan truk, dan di perjalanan hujan deras mengguyur kami. Sesampai di basecamp, kami beristirahat sebentara untuk makan, sholat dan menyiapkan apa yang perlu disiapkan. Sekitar pukul 16.00, saya dan rombongan pendaki lain mulai mendaki, dan saat itu kami mendaki melewati jalur Selo. It's amazing, di sore itu cukup dingin , aku yang tak pernah mempunyai pengalaman mendaki gunung nekat saja untuk mendaki bersama dengan sahabat - sahabatku. Aku hanya optimis kalau aku bisa mendaki dan ingin sekali kujamah puncak Kentheng songo. 
     Langkah demi langkah sudah kurasakan , menjelang senja cuaca sedikit gerimis sehingga kami harus memakai ponco, dan tak lupa di dalam mulutku selalu kumakan gula jawa untuk menjaga staminaku , ya karena aku pendaki pemula. Pos demi pos kami lewati hingga sekitar pukul 22.00 sampai di sabana 2 kami mendirikan tenda disana. Malam dengan udara yang dingin menemani kami, dan tak lupa kami membuat mie goreng dan minuman penghangat badan. Aku sangat menikmati malam itu , dengan pemandangan lampu - lampu kota di bawahnya, aku senang menikmati malam itu bersama sahabat - sahabatku. Setelah cukup kenyang , saya melanjutkan untuk tidur karena esok sebelum fajar kami harus bangun untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak.
     Esoknya sekitar pukul 04.00 , kami bangun dan segera bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Suhu udara yang dingin tak mengalahkan semangatku untuk menuju puncak. Kulangkahkan kaki walau nafas sedikit sesak di pagi itu, hingga akhirnya aku sampai di puncak dan sang surya mulai menampakkan dirinya , oh , Lord , it's a beautiful view I've never seen. Aku berdiri diatas samudra awan. Ya , di puncak Merbabu , di atap Merbabu , di Kentheng Songo ini aku berdiri dengan memandang alam sekitar. It's wonderful , aku sangat mengagumi betapa indahnya alam Indonesia , alam ciptaan sang Maha Semesta, tak hentinya - hentinya aku mengagumi indahnya alam yang kulihat di puncak Merbabu. Dari situ aku bisa melihat gunung Merapi yang berada tepat di depan Merbabu , 2 gunung kembar yakni Sindoro dan Sumbing , indahnya Rawapening , dan semua pemandangan alam lainnya yang Maha pecah. Terima kasih Tuhan, Engkau telah menciptakan lukisan nyataMu di bumi ini, alam Indonesia..